FEBRI
Budaya,  Suku

MENELUSURI SEJARAH PERSAUDARAAN DAYAK DAN BANJAR

Daerah Alai Sekarang ini berada di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Terdiri dari empat kecamatan yaitu Batang Alai Selatan, Batang Alai Utara, Batang Alai Timur (pemekaran Batang Alai Selatan) dan Limpasu (Pemekaran Batang Alai Utara). Alai adalah sebutan untuk orang yang mendiami daerah di sekitaran pegunungan meratus. Alai sendiri dahulunya tidak sebatas hanya untuk daerah Batang Alai di Kabupaten Hulu Sungai saja. Menurut catatan seorang pemerhati budaya Bapak Mudjahidin. S (2010) ketika beliau bertanya kepada urang Banjar yang berdiam di pesisir Pulau Batam (Riau) dalam sebuah dialog:

“Piani urang mana asalnya” (Kalian Orang dari mana)

“Aku alai Kalua,(aku dari kampung Kelua) atau aku alai Negara, atau aku alai Kandangan dsb”.

istilah alai sendiri lebih populer dibanding Banjar. Juga ketika kulaan di Malaysia mereka masih banyak menggunakan istilah alai untuk nama kampung.

Masih menurut Mudjahidin. S (2010) Dari dongeng lama hidup sekelompok suku Melayu Tua di Negeri Phone (Kalimantan) suku-suku tersebut terdiri dari lima kelompok dipimpin masing-masing lima bersaudara, sudah mempunyai sistem kepemimpinan (taat pada yang tua) kelima bersaudara tersebut konon bernama : Abal (saudara tua) dan keempat saudaranya bernama, Anyan, Aban, Anum, Aju, mereka sangat sakti, bijak dan berwibawa. Negeri yang dibangunnya bernama Nan Marunai/Nan Sarunai, yang artinya

Marunai = memanggil dengan suara nyaring (keras belagu)

Sarunai = menyaru dengan suara seperti suling.

Nai = artinya seruling bahasa arab lama/ melayu tua

Dahulu dinegeri ini jika memanggil orang (mengumpulkan orang) dengan berteriak (bahalulung : Banjar) keras suaranya berirama sesuai maksud panggilannya.

Dari cerita suku Dayak Tua, kelima saudara ini titisan dari dewa Batara Babariang Langit, yaitu : titisan Dewa Batahara Sangiang Langit. Batara Babariang Langit kawin dengan. Putri Mahuntup Bulang anak dari Batari Maluja Bulan dan Melahirkan Maanyamai, dan Maanyamai beristri dan istrinya melahirkan anak bernama Andung Prasap Konon sangat sakti. Dan membangun Negeri Nan Marunai (Nan Sarunai) kemudian Andung Prasap beristri anak Raja menggaling Langit dan melahirkan kelima saudara tersebut di atas. Dari kelima saudara tersebut inilah cikal bakal suku-suku Dayak dari Borneo Timur, Tengah, Utara dan Selatan, dari orang tuanya, mereka disuruh mengembara, konon Abal ke daerah Timur, menjadi suku Aba, Anum ke daerah utara menjadi suku Otdanum, Aju menetap ketengah benua, jadi suku Ngaju, sedangkan Anyan keselataan menjadi suku Maanyan. Dan mereka diberi pitua :” Tabu/ dilarang bacakut papadaan apalagi bermusuhan,karena mereka satu daerah satu nyawa, menurut pitua Nenek Moyang mereka mengatakan (pitua) Terkutuk apabila Bakalahi sata manggungan (Netschr : Agama dan Peradaban Dayak hal 21).

Dari cerita silsilah keturunan dayak tersebut adalah suku weddoid yang sudah berabad-abad mendiami pulau phone ini (Canchana/Borneo/Kalimantan) anak tertua yang nomor 2 (dua) bernama Anyan menjadi suku Ma-Anyan melahirkan keturunan : Luwa, pahi, Alai, Wangi, Sari, Aju, Burai, Buun, Kutip, Asih dari kesepuluh anak ini suku Dayak menyebutkan cucu urang 10 (sepuluh) kesepuluh cucu membuka kampung sehingga ada warga luwa sepanjang Kalua sampai kemuara Uya, Ahe menjadi warga Ma-ahe Mahi, Alai di Birayang, wangi menjadi warga Mawangi di Loksado, Sari menjadi warga/ Marga Sari, Aju menjadi suku Biaju sampai ke Riam Kanan dan Riam Kiwa, Burai menjadi warga, Maburai, Buun menjadi warga Mabuun dan kampung di Warikin, Kutip menjadi warga-Makutip sedangkan Asih menjadi suku Ma-asih ke muara pulau (ujung panti) dan Sungai Baulak (sekarang sebelah Alalak).

Keturunan Anyan

Konon dari cucu ke 20 Masari inilah menjadi Raja di Kerajaan Candi Laras/ Margasari sedangkan cucu dari keturunan Asih membangun Bandar di Ujung Panti sekaligus sebagai Kepala Bandar, saat itu. Keturunan ke 27 Asih ini ada yang bernama Masih dan. juga kepala Bandar setelah pangeran. Suriansyah, Masih dapat pangkat patih dan. beragama Islam, Patih Masih ini ibunya keturunan Ngaju dari Bakumpai.

Adapun Luwa anak tertua dari Anyan’ membuka pusat kampung bernama Tanjung puri, Luwa mendirikan Mantir di atas pundan Barundak yaitu sebuah rumah kecil berisi dewa-dewa, adapun dewa yang paling besar dulunya bernama Dewa Kaluwi yang artinya : KEMAKMURAN DAN KEBARKATAN, Anak-anak Luwa ada yang suka Berdagang mengembara/ Maddam ke daerah-daerah lain, ada juga yang suka bertani/ berhuma, ada juga suka berkesenian. Sementara Keturunan Cucu urang 10 (sepuluh) ini cikal bakal Nenek Moyang suku di Kalimantan Selatan, bahkan ada sebagian di Barito Selatan dan sampai ke Daerah Pasir.

Pada pemerintahan Pangeran Suriansyah penduduk Tanjung puri Banyak yang masuk Agama Islam, sedangkan Dewa Kaluwi konon terletak di Daerah Kalua Sekarang/Banua Lawas.

Untuk mengetahui lebih banyak tentang urang Alai mungkin bisa kita telusuri melalui jejak sejarah kerajaan-kerajaan di Kalimantan Selatan dimana ada beberapa catatan yang menuliskan tentang keberadaan urang Alai. Dimulai dari kerajaan Tertua yaitu:

Kerajaan Nan Sarunai (242 SM – 1389 M)


Menurut catatan seorang pemerhati Sejarah Kalimantan Bapak Achmad Firwany (2013), kerajaan Nan Sarunai merupakan kerajaan tertua di Kalimantan bahkan juga di Indonesia. Bukti peninggalannya berupa Candi Agung [242―226 SM], Candi Laras, dan Prasasti Batung Batulis [684 M]. Berdasarkan pada pemeriksaan laboratorium sampel bata batuan bangunan peninggalan berbagai kerajaan di seluruh Nusantara, menggunakan teknik penentuan usia geologik berdasarkan pada teknologi fisika atomik, yang sangat akurat, penanggalan peluruhan isotop atom radioaktiv C-14 ― C-12, (Carbonium-14 ― Carbonium 12), dimana radio-isotop C14 luruh dalam waktu-paruh 5.730 tahun menjadi isotop-stabil radiogenik C-12, ditemukan di 1996, bahwa yang tertua adalah Candi Agung peninggalan Kerajaan NanSarunai, di Banua Lawas, dekat Amuntai, HuluSungai Utara, Kalimantan Selatan bagian utara. Candi Agung dibangun dan dipugar ±16 tahun antara ±242―226 SM, oleh Suku Dayak Ma`anyan dan oleh Suku Dayak Bukit Meratus, leluhur Suku Banjar Hulu Sungai dan Suku Banjar Batang Banyu. Masa dimana di India berlangsung kebangkitan Dinasti Mauria di PataliPutra [321―185 SM], dengan Raja ChadraGupta Maurya [321―297 SM] dan putranya, Raja Asoka [274-237 SM], dan kebangkitan Dinasti Ch’in di TiongKok dibawah rezim ShinHuangTi [221―206 SM], yang disusul kemudian oleh kebangkitan Dinasti Han [202 SM―209 M]. Jadi, Candi Agung telah dibangun tuntas sekitar seabad pasca ekspansi Raja Iskandar Agung dari Makedonia ke Eropa dan Asia [336―323 SM], dan lebih tua seabad lebih daripada kebangkitan Kekaisaran Romawi di Roma, Italia [100 SM ― 0 M]. Artinya, Kerajaan Nan Sarunai lebih dulu ada sebelum kelahiran nabiyullaahi wa rasuwlullaahi, Isaa ibnu Maryaam, Isaa al Masih, alaihi salam, Yesus sang Kristus (Jesus the Christ) [±5 SM ― ±32 M]. Raja pertamanya adalah Andung Prasap.

Menurut Catatan Mudjahidin. S (2010) Andung Prasap mempunyai lima orang anak yaitu Abal, Anyan, Aban, Anum, Aju. Sedangkan Anyan mempunyai sepuluh orang anak yaitu Lua, Pahi, Alai, Wangi, Sari, Aju, Burai, Buun, Kutip dan Asih suku Dayak menyebutnya cucu urang sepuluh.

Dari catatan tentang sejarah kerajaan Nan Sarunai ini bisa disimpulkan orang Alai adalah generasi ketiga dari Raja Andung Prasap (Raja pertama kerajaan Nan Sarunai).

Kerajaan Tanjungpuri (520 M – 1444 M)


Menurut catatan Achmad Firwany (2013) kerajaan Tanjungpuri berdiri antara tahun 520 M – 1444 M. Didirikan oleh Suku Malayu, pendatang dari Sumatra Selatan ke Kalimantan Selatan, sebelum ada Kerajaan SriWijaya.

Di masa kerajaan tanjungpuri ini lah diperkirakan eksodusnya orang-orang melayu tua (Dayak Meratus) ke daerah pegunungan meratus karena terdesak oleh pendatang dari suku melayu muda sumatera yang akhirnya mendirikan kerajaan. Banyak fakta yang menunjukkan bahwa orang bukit sebenarnya bukanlah berasal dari daerah pegunungan tapi berasal dari daerah pesisir.

Hasil penelitian Noerid Haloei Radam (1996) menunjukkan bahwa hingga sekarang belum ditemukan folklore orang Dayak Meratus berupa mite, legenda, dan dongeng yang di dalamnya berisi petunjuk bahwa nenek moyang orang Dayak Meratus berasal dari daerah pegunungan tertentu. Justru sebaliknya, banyak sekali ditemukan folklore orang Meratus yang menurut hasil kajian/analisis Radam justru berisi petunjuk bahwa nenek moyang mereka berasal dari suatu dataran rendah di suatu muara sungai yang terletak di tepi laut.

Kolektif bahwa orang Dayak Meratus pada mulanya tinggal di dataran rendah juga didukung oleh Alfani Daud (1997) yang menyatakan bahwa orang Dayak Meratus yang ada sekarang kemungkinan adalah sisa-sisa dari imigran Melayu gelombang pertama (proto melayu) yang terdesak ke pegunungan Meratus oleh kedatangan kelompok imigran yang datang belakangan (deutro melayu). Oleh karena mereka dahulunya migran Melayu yang datang lebih awal, maka bahasa mereka adalah bahasa Banjar kuno.

Di segi kebahasaan terdapat fakta-fakta berupa istilah-istilah/nama peralatan upacara etnis Dayak Meratus yang merujuk pada kehidupan di muara sungai atau di daerah pesisir pantai, seperti: perahu malayang (perahu terapung-apung), tihang layar (tiang layar), dan balai bajalan (balai berpindah-pindah). Orang Dayak Meratus juga mempergunakan istilah yang berkonotasi dengan sungai dan laut untuk menyebut huma sebagai pulau (laut tempat berlayar, dan laut tempat memohon. Mereka menyebut kegiatan menanam padi sebagai kegiatan mengantarkan padi tulak balayar (pergi berlayar), dan kegiatan balian batandik (balian menari) dalam upacara ma’anyanggar Banua (upacara melindungi kampung dari marabahaya) disebut balian bakalaut (balian pergi ke laut).

Jadi diperkirakan pada masa kerajaan Tanjungpuri ini terjadi pencampuran antara urang Alai dengan urang Melayu Tua (Bukit/Meratus) dan pada masa itu mereka tetap dipanggil dengan sebutan urang Alai.

Dimasa kerajaan Tanjungpuri ini pula menurut Hikayat Datu Banua Lima ada seorang panglima kerajaan berasal dari Alai yang terkenal dengan sebutan Panglima Alai. Bersama lima panglima lainnya yaitu Panglima Tabalong, Panglima Balangan, Panglima Hamandit dan Panglima Tapin sukses menghalau serangan kerajaan Majapahit pada tahun 1356.

Kerajaan Negara Dipa (1387 M – 1495)


Setelah runtuhnya kerajaan Nan Sarunai dan Tanjungpuri berdirilah sebuah kerajaan bercorak hindu yaitu kerajaan Negara Dipa didirikan pada tahun 1387 oleh Empu Jatmika. Pada masa itu Empu Jatmika mengirim Tumenggung Tatah Jiwa untuk menaklukkan Batang Tabalong dan Batang Balangan. Serta Tumenggung Arya Megatsari untuk menaklukkan daerah Batang Alai, Batang Hamandit dan Batang Tapin. Daerah-daerah tersebut adalah wilayah bekas panglima Kerajaan tanjungpuri. Menurut Hikayat Manggajaya pada masa itu bangsawan Tanjungpuri mengungsi ke daerah Batang Alai menghindari kejaran orang-orang dari Negara Dipa. Konon oleh para panglima pengeran dari Tanjungpuri tersebut disembunyikan di daerah Manggajaya Batang Alai di pegunungan Meratus. Tak ada seorangpun dari Negara Dipa sanggup untuk sampai ke daerah tersebut karena konon adalah daerah kerajaan gaib di pegunungan meratus. Disana juga lima orang panglima dari Tanjungpuri bersemayam dan menjadi gaib. Oleh karena adanya keturunan bangsawan Tanjungpuri tersebut maka ada ciri khas nama bagi mereka yang berada disekitaran Alai gunung meratus yaitu dengan nama awalan Ma seperti Masari, Mayunus, Mahalit dsb.

Kerajaan Negara Daha (1478 M – 1526 M)


Kerajaan Negara Daha adalah sebuah kerajaan Hindu (Syiwa-Buddha) yang pernah berdiri di Kalimantan Selatan sezaman dengan kerajaan Islam Giri Kedaton. Kerajaan Negara Daha merupakan pendahulu Kesultanan Banjar. Pusat pemerintahan/ibukota kerajaan ini berada di Muhara Hulak atau dikenal sebagai kota Negara (sekarang kecamatan Daha Selatan, Hulu Sungai Selatan), sedangkan bandar perdagangan dipindahkan dari pelabuhan lama Kerajaan Negara Dipa yaitu Muara Rampiau (sekarang desa Marampiau) ke pelabuhan baru pada Bandar Muara Bahan (sekarang kota Marabahan, Barito Kuala).Pusat Kerajaan Negara Daha terletak di tepi sungai Negara dan berjarak 165 km di sebelah utara Kota Banjarmasin, ibukota provinsi Kalimantan Selatan. Kerajaan Negara Daha merupakan kelanjutan dari Kerajaan Negara Dipa yang saat itu berkedudukan di Kuripan/Candi Agung, (sekarang kota Amuntai). Pemindahan ibukota dari Kuripan adalah untuk menghindari bala bencana karena kota itu dianggap sudah kehilangan tuahnya. Pusat pemerintahan dipindah ke arah hilir sungai Negara (sungai Bahan) menyebabkan nama kerajaan juga berubah sehingga disebut dengan nama yang baru sesuai letak ibukotanya yang ketiga ketika dipindahkan yaitu Kerajaan Negara Daha.

Maharaja Sukarama, Raja Negara Daha telah berwasiat agar penggantinya adalah cucunya Raden Samudera, anak dari putrinya Puteri Galuh Intan Sari. Ayah dari Raden Samudera adalah Raden Manteri Jaya, putra dari Raden Begawan, saudara Maharaja Sukarama. Wasiat tersebut menyebabkan Raden Samudera terancam keselamatannya karena para putra Maharaja Sukarama juga berambisi sebagai raja yaitu Pangeran Bagalung, Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Tumenggung.

Dibantu oleh Arya Taranggana, Pangeran Samudra melarikan diri dengan sampan ke hilir sungai Barito. Sepeninggal Sukarama, Pangeran Mangkubumi menjadi Raja Negara Daha, selanjutnya digantikan Pangeran Tumenggung yang juga putra Sukarama. Pangeran Samudra yang menyamar menjadi nelayan di daerah Balandean dan Kuin, ditampung oleh Patih Masih di rumahnya. Oleh Patih Masih bersama Patih Muhur, Patih Balitung diangkat menjadi raja yang berkedudukan di Bandarmasih.

Pangeran Tumenggung melakukan penyerangan ke Bandarmasih. Pangeran Samudra dibantu Kerajaan Demak dengan kekuatan 40.000 prajurit dengan armada sebanyak 1.000 perahu yang masing-masing memuat 400 prajurit mampu menahan serangan tersebut. Akhirnya Pangeran Tumenggung bersedia menyerahkan kekuasaan Kerajaan Negara Daha kepada Pangeran Samudra. Kerajaan Negara Daha kemudian dilebur menjadi Kesultanan Banjar yang beristana di Bandarmasih. Sedangkan Pangeran Tumenggung diberi wilayah di Batang Alai. Dari catatan sejarah kerajaan Negara Daha ini bisa disimpulkan bahwa daerah Batang Alai adalah wilayah pemerintahan terakhir kerajaan Negara Daha dibawah pimpinan Pangeran Tumenggung. Sehingga pada masa itu terjadi pembauran antara orang-orang dari Negara Daha dengan urang Alai.

Kesultanan Banjar (1520 M – 1860 M)


Pada masa Kesultanan Banjar ada sebuah peristiwa penting yang memuat sebuah catatan tentang daerah Alai. Pada masa Sultan Amrullah Bagus Kasuma (1663 – 1679) Nama lahirnya Raden Bagus. Masa pemerintahannya sering ditulis tahun 1660-1700. Pada tahun 1660-1663 ia diwakilkan oleh Sultan Rakyatullah dalam menjalankan pemerintahan karena ia belum dewasa. Pada tahun 1663 paman tirinya Pangeran Dipati Anom II/Sultan Agung merampas tahta dari Sultan Rakyatullah, yang semestinya dirinyalah sebagai ahli waris yang sah sebagai Sultan Banjar berikutnya. Sementara itu ia telah dilantik oleh Pangeran Tapesana/Sultan Rakyatullah dengan gelar Sultan Amrullah Bagus Kasuma. Tahun 1663-1679 ia sebagai raja pelarian yang memerintah dari pedalaman (Alai). Kemudian Sultan Amrullah di daerah pedalaman dengan di bantu oleh orang-orang Alai menyusun kekuatan dan berhasil membinasakan pamannya tirinya Sultan Agung beserta anaknya Pangeran Dipati, kemudian naik tahta kedua kalinya. Saudara tirinya Raden Basus/Suria Negara/Pangeran Dipati Tuha diangkat sebagai Raja daerah Negara, yang kemudian membangun kerajaan Tanah Bumbu dengan wilayah dari Tanjung Aru sampai Tanjung Silat yang diperuntukan bagi anaknya yaitu Pangeran Mangu, anak lainnya Pangeran Citra menjadi Sultan Kelua.

Dari catatan sejarah Kesultanan Banjar ini kembali daerah Batang Alai menjadi wilayah pelarian para raja. Kembali terjadi interaksi urang Alai dengan orang-orang dari kesultanan Banjar.

Pada abad Ke-17 dan Ke-18 Para Habaib dan Para Masya’ikh yang mengajarkan agama Islam di Kerajaan Banjar, baik yang datang dari Hadramaut, Maroko, dan india. Salah satunya adalah tokoh yang berpengaruh dan disegani di Kerajaan Banjar adalah Al-Arif Billah, Asyekh Al-Habib Abdurrahman Alkaf, dan Anak Beliau Asyekh Al-Habib Ahmad Alkaf, dan Al-Habib Muhammad Ali Azmatkhan (Datu Ronggo). Yang makam nya terletak di Jalan Antasan Kecil Timur Berbatasan dengan Jalan Panglima Batur Kelurahan Surgi Mufti Kecamatan Banjarmasin Utara Kota Banjarmasin Kalimantan Selatan dan makam-makam beliau dirawat dan dipelihara oleh Zuriat Beliau yang bernama (Asyekh Al-Habib Dr. (cnd). Muhammad Hamdani Alkaf, SH,.MH) Pengurus Zuriat Makam Keramat Al-Habib Abdurrahman Alkaf dan Zuriat Ahlubayt dan Aulia Allah Mahabbatul Wujud Rasulullah.

Al-Habib Abdurrahman Alkaf banyak meislamkan tokoh suku dayak di Tabalong

Zaman Kolonial Belanda
Menurut Staatblaad tahun 1898 no.178 Onderafdeeling Batang Alai menjadi salah satu onderafdeeling di dalam Afdeeling Kendangan. Setelah mengeluarkan pernyataan penghapusan Kesultanan Banjar pada 11 Juni 1860 Pemerintah Kolonial Hindia Belanda memasukkan Kesultanan Banjar dalam wilayah yang di kenal dengan Zuider en Oosterafdeling van Borneo.

Zaman Perjuangan Kemerdekaan
Pada masa perjuangan kemerdekaan daerah Alai (Birayang) adalah salah satu markas pejuang ALRI Div. IV Pertahanan Kalimantan. Di Daerah ini tepatnya di desa Birayang Surapati disimpang tiga tugu terdapat monumen tanda perjuangan tentara ALRI Div. IV Pertahanan Kalimantan. Pada Monumen tersebut tertulis kelompok-kelompok pejuang saat itu yaitu B.P.R.I.K (Barisan Pemberontak Republik Indonesia), GERPINDOM (Gerakan Pemuda Indonesia Merdeka), GERIMRI (Gerakan Rakyat Mempertahankan Republik Indonesia), MTKI (Mandau Telabang Kalimantan Indonesia), Ps Sabilillah (Pasukan Sabilillah) dan B.B (Banteng Borneo). Menurut tetuha para veteran ALRI, pasukan ALRI Div. IV Pertahanan Kalimantan di Birayang adalah pasukan yang tidak kenal kompromi setiap mata-mata atau yang berpihak kepada Belanda maka akan di penggal lehernya. Sehingga sangat sering saat itu banyak sekali terjadi pemenggalan kepala. Bahkan Hasan Basri ketika pertama kali datang di Birayang sudah dipertontonkan dengan penggalan kepala seorang mata-mata.

Kesimpulan

Urang Alai adalah salah satu etnis tertua dan asli pulau Kalimantan.
Urang Alai pertama kali terjadi interaksi dan pencampuran adalah dimasa Kerajaan tanjungpuri dengan kedatangan etnis melayu tua (bukit/meratus).
Urang Alai juga berinteraksi dan terjadi pembauran dengan orang-orang dari Negara Daha dan Banjar di masa kerajaan Negara Daha dan Kesultanan Banjar
Daerah Alai sejak dahulu selalu menjadi basis perlawanan dan pemberontakan.

Salam satu darah nenek moyang, datu, sanggah, waring



Sumber berita : ( SEKOLAH TINGGI HUKUM PAINAN / https://stih-painan.ac.id/)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

maaf teks tidak dapat di copy